Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Bismillah..

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan.


Bismillahirrohmanirrohim
Psikologi Universitas Brawijaya Malang


*taken from: novel Negeri 5 Menara

Sabtu, 19 Februari 2011

Negeri 5 menara

Awalnya Alif memutuskan untuk bersekolah di Pondok Madani karena terpaksa mengikuti keinginan Amaknya untuk sekolah agama. Alif sendiri ragu dengan keputusannya itu. Namun setelah bertemu dengan Raja, Baso, Dulmajid, Atang, dan Said perlahan Alif mulai menikmati kehidupannya di Pondok. Alif dan teman-temannya memiliki hobby berkumpul di bawah menara masjid saat menunggu waktu Maghrib. Dan di bawah menara tersebut mereka menatap awan dan melukiskan impian mereka masing-masing. Karena itu mereka dijuluki Sahibul Menara...

"Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku melihat awan yang seperti benua Amerika, Raja bersikeras awan yang sama berbentuk Eropa, sementara Atang tak yakin dengan kami berdua, dan sangat percaya bahwa awan itu berbentuk benua Afrika. Baso malah melihat semua ini dalam konteks Asia, sedangkan Said dan Dulmajid sangat nasionalis, awan itu berbentuk peta negara kesatuan Indonesia. Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya juga tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihatlah hari ini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan mengirim benua impian ke pelukan masing-masing. Kun fayakun, maka semula awan impian, kini hidup yang nyata. Kami berenam telah berada di lima negara yang berbeda. Di lima negara impian kami. Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. 
Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil ..."

Novel yang menceritakan tentang suka duka Alif dan Sahibul Menara selama 4 tahun menempuh pendidikan di Pondok Madani. High recommended ! :D

Senin, 25 Oktober 2010

Quotes from 5cm

"Sesuatu yang tidak pasti di dunia ini adalah ketidakpastian. Dan Tuhan memelihara ketidakpastian itu pada seluruh umat manusia agar manusia terus belajar, terus bermimpi, dan ujung-ujungnya kita akan kembali padaNya."

"Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberi manfaat bagi orang lain."

"Wether you believe you can or wether you believe you can't. You're absolutely right."

"Our greatest glory is not in never falling but in rising everytime we fall."

"Biarkan keyakinan kamu, 5cm menggantung, mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh daripada biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang 1000x lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa."

"Kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi kamu akan terwujud nantinya, karena kamu hanya harus mempercayainya...."

Sabtu, 07 Agustus 2010

Berteman dengan kematian


Hmm ... akhirnya selesai juga baca buku ini. Buku ini ditulis oleh duniasintaridwan, menceritakan tentang kisah seorang gadis (sinta sendiri) yg mengidap penyakit lupus. Penyakit yg tidak kalah berbahaya dari kanker! Kesimpulanku dari buku itu, lupus adalah penyakit yg disebabkan oleh antibodi yg menyerang organ tubuh.

Sinta berasal dari keluarga broken home. Karena itu dia memilih untuk keluar dari kota Cirebon (kota kelahirannya) dan berkuliah di Bandung. Sinta memiliki kepribadian yg selalu ceria. Suatu hari ia bermaksud untuk mendonorkan darahnya dalam acara yg diadakan oleh kampusnya. Namun, alat pengecek darah tidak mau menerima darahnya. Dan dari situlah dokter menyuruhnya untuk periksa darah. Akhirnya setelah beberapa kali memeriksakan darahnya, Sinta dinyatakan mengidap lupus.

Awalnya Sinta tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia mengidap penyakit lupus. Karena itu dia menjadi sosok yg pendiam dan lebih sering mengurung diri di rumah. Sinta juga tidak menceritakan penyakitnya itu kepada keluarganya.

Namun akhirnya, Sinta memutuskan untuk menjadikan lupus sebagai temannya. Setiap kali lupus itu mulai kambuh, Sinta hanya menghadapinya dengan tersenyum. Perlahan, hidup Sinta mulai membaik. Kini dia berkuliah di jurusan filologi. Ia bercita-cita ingin membangun museum naskah kuno nusantara. 

My Favorite Quotation : "Hidup harus disyukuri, bahwa hidup harus dihidupi! Karena menghidupi hidup adalah obat sesungguhnya dari setiap makhluk hidup di dunia."

Well, menurutku ini buku memoar yang bagus banget. Buku ini ngajarin kita banyak hal : untuk mensyukuri kehidupan yang telah diberikanNya untuk kita, untuk nggak gampang nyerah dalam menghadapi semua cobaan, dan.... untuk tetap tersenyum dalam keadaan apapun. :)